
Telah kubentangkan hamparan harapan
walau kutahu itu hanya kesia-siaan belaka
yang ia tak dapat kugenggam
yang ia tak dapat kubuka lembarannya
Telah kuukir kenangan padamu
yang tidak pernah menuntut perhatian
tiada mengharapkan rasa bahagia
yang mengharap ketulusan hatimu
walau cara pandang kita memang berbeda
Bagiku bukan penghalang
tak perlu harus samakan isi kepala
karena semua itu ‘kan menghilangkan arti keindahan
Bahagia itu berjuta makna bagiku
dapat membuatmu dan aku tersenyum lepas
itulah dambaan nuraniku
Namun ‘ku kini tak mampu lagi tersenyum
senyumku menghilang dan bahkan ‘tuk ‘melangkah sekalipun
bahkan untuk sanggup bertahan sekalipun
Sekarang semuanya terasa menyakitkan
kau tertekan sementara aku kehilangan arah
mawar itu sekarang berdarah-darah
yang menetesi lembaran kasih yang terbelah
tersisih tapi ‘ku yakin cintaku bukanlah kembang selasih
Harus kukatakan juga kini
sebelum kujawab permintaanmu
bahwa duniaku ini penuh godaan
sanggupkah engkau bila harus bertahan?
Mungkin terlambat kukatakan
namun terima kasihku atas cinta kasihmu padaku
dan ma'afkan daku selama ini.
Namun tiba-tiba kau datang lagi
dari jendela hatiku lalu kulihat hamparan kasihmu,
tersenyum padaku dan datang membawa warna
menuliskan pada kanvas cintamu untukku
Kau kusambut dengan mesra
kuuraikan warna merah muda
karena kau bilang jatuh cinta kembali,
lalu kugariskan pada jajaran warna biru
kau tanyakan: Maukah kau jadi pedamping hidupku?
Aku tersenyum dan kutebarkan padang rumput hijau,
kukatakan: Aku mau mendampingmu dalam mengarungi kehidupan
memang sudah waktunya kita mengharungi biduk kehidupan
dalam kasih yang kini bersemi kembali.