Selasa, 09 November 2010

Rinduku




Rembulan menerbangkan rindu
jauh menjelajahi langit cinta,
menyusuri jejak penghambaan

Mengeja rindu
mencatat namamu di bayang rindu dendam,
pada memori di hatiku

Membaca hujan
menyeruak pada ingatan
menemukanmu, mendukung dan mencintaimu.

Mencintaimu sepenuh rasa
cintaku kepada pemilik bumi dan Arasy
sampai menjadi halal bagi hidup
menunggu dan menyimpannya pada ingatan

Pasti ada masa baik
saat kutemukan sebuah saja pada pemilik cinta
walau bukan kau, jagad perempuan!

Malam menggelapkan hati dan mata
singgah dan menghapus tujuan
membiarkan dingin, sunyi dan sepi menjadi saksi

Laksana debur ombak mengenangmu
menggenapi jiwa menyebut Asmamu
buih dosa berlari bersama rindu menggapaimu

Ya Allah kami,
legam hati menyusupi jiwa
menangis di pelukan asa cinta
menapaki cahaya pada pengampunanmu.

Bencana Lagi



Dari Wasior Hingga Mentawai dan Merapi

Berhari-hari kusaksikan lagi
berbagai bencana menerpa negeri ini
kulihat ada ratusan mayat berada dalam kantong
dijejerkan, dihitung, untuk kemudian dibawa sanak kadangnya
dikuburkan, meninggalkan duka dan kepedihan.

Aku menangis menggugu
betapa Engkau Mahapunya kuasa
sementara aku ini adalah noktah kecil tanpa arti
duduk bersimpuh menangis untuk mengadu kepadaMu.

Ya Allah kami,
mengapa banyak bencana terus melanda negeri kami
kami tahu bahwa ini bukan lagi sekadar cobaan dan teguran
ini adalah azab dan kehinaan dariMu
karena lalai, ingkar, salah dan dosa kami

Aku tahu bahwa di Wasior, Mentawai dan Merapi
memang tidak ada sanak kadangku di sana
tetapi aku ini anak bangsa ikut merasakan kepedihan
yang menyeruak dan ikut menyayat nuraniku

Betapa kurasakan kepedihan mereka
kehilangan anak, istri, suami, dan jiwa-jiwa lain
harta benda, tanaman pangan, ternak, dan kendaraan,
semua rusak binasa, hancur seperti jiwa mereka
menjadi manusia pengungsi bertebaran di atas bumi
makan nasi bungkus, mie instan, perawatan alakadarnya

Oo, bencana
enyahlah dari bumi kami ini
enyahlah dari hadapan kami
kami tak hendak ada banjir bandang, tsunami, gempa bumi atau letusan gunung api
kami tak hendak kau datangi lagi
kami tak hendak kau susahkan lagi.

Ya Allah kami,
Engkau pasti mendengar kesusahan kami
yang letaknya pada watak kehidupan kami
yang ada pada batas titik kesabaran manusia.

Bersemi Kembali


Telah kubentangkan hamparan harapan
walau kutahu itu hanya kesia-siaan belaka
yang ia tak dapat kugenggam
yang ia tak dapat kubuka lembarannya

Telah kuukir kenangan padamu
yang tidak pernah menuntut perhatian
tiada mengharapkan rasa bahagia
yang mengharap ketulusan hatimu
walau cara pandang kita memang berbeda


Bagiku bukan penghalang
tak perlu harus samakan isi kepala
karena semua itu ‘kan menghilangkan arti keindahan

Bahagia itu berjuta makna bagiku
dapat membuatmu dan aku tersenyum lepas
itulah dambaan nuraniku

Namun ‘ku kini tak mampu lagi tersenyum
senyumku menghilang dan bahkan ‘tuk ‘melangkah sekalipun
bahkan untuk sanggup bertahan sekalipun

Sekarang semuanya terasa menyakitkan
kau tertekan sementara aku kehilangan arah
mawar itu sekarang berdarah-darah
yang menetesi lembaran kasih yang terbelah
tersisih tapi ‘ku yakin cintaku bukanlah kembang selasih

Harus kukatakan juga kini
sebelum kujawab permintaanmu
bahwa duniaku ini penuh godaan
sanggupkah engkau bila harus bertahan?

Mungkin terlambat kukatakan
namun terima kasihku atas cinta kasihmu padaku
dan ma'afkan daku selama ini.

Namun tiba-tiba kau datang lagi
dari jendela hatiku lalu kulihat hamparan kasihmu,
tersenyum padaku dan datang membawa warna
menuliskan pada kanvas cintamu untukku

Kau kusambut dengan mesra
kuuraikan warna merah muda
karena kau bilang jatuh cinta kembali,
lalu kugariskan pada jajaran warna biru
kau tanyakan: Maukah kau jadi pedamping hidupku?

Aku tersenyum dan kutebarkan padang rumput hijau,
kukatakan: Aku mau mendampingmu dalam mengarungi kehidupan
memang sudah waktunya kita mengharungi biduk kehidupan
dalam kasih yang kini bersemi kembali.