Istilah dialog (dalam bentuk “benturan”) yang terjadi di lapangan pemikiran adalah friksi (gesekan) antara agama dan peradaban kaum Muslimin di satu sisi; Nonmuslim dan agama mereka, serta kaum kapitalis dan peradaban mereka ada pada sisi yang lain.
Pemimpin dan pemikir kapitalis acap membenturkan unsur-unsur tersebut dalam upaya memisahkan Islam dari para pemeluknya, atau antara Islam dengan kaum Muslimin. Mereka katakan bahwa Islam adalah agama besar dan benar, tetapi lain waktu mereka sebutkan bahwa kaum Muslimin adalah kaum terbelakang, intolerans, brutal, senjata, berdarah-darah, dan menjadi teroris.
Mereka menjadi para pendusta ketika berbicara tentang Islam. Kalau benar Islam agama yang besar dan benar, harusnya mereka peluk dan ikut berislam.
Itulah upaya menipu sebagian kaum Muslim yang lugu (naif) dan usaha meredam kebencian kaum Muslim, menghantam segolongan Muslim yang taat, atau berusaha menyebarluaskan konsep peradaban kufur kepada kaum Muslim. Namun mereka tetap kewalahan, karena aqidah Islam tetap tertanam dalam jiwa kaum Muslimin, bahkan mayoritas masih memegang kuat aqidah itu.
Mereka menyadari bahwa permusuhannya terhadap Islam secara terbuka sama artinya mereka menghasut dan memprovokasi bangkitnya kaum Muslim. Karena itu mereka menggunaan kata-kata yang menyesatkan sebagai upaya mengelabui kaum Muslimin dan memperdayanya.
Sebagian kaum Muslim menyantap umpan ini dan bersedia berdialog dengan meraka yang didukung oleh para intelektual yang menjadi agen-agen mereka. Fokus dialog itu pada tiga hal utama.
Pertama, persamaan antar agama dan peradaban dalam dialog, tanpa membahas ada agama atau peradaban yang lebih unggul dan lebih baik daripada yang lain.
Kedua, dialog dibatasi hanya sebagai ajang untuk mengetahui pendapat pihak lain, bukan untuk menyanggah atau membuktikan kebenaran dan kesalahan.
Ketiga, dialog bertujuan menciptakan peradaban alternatif dengan cara mencari titik temu dan persamaan antara kedua pemikiran dan peradaban.
Keempat, menyalahkan dan menyudutkan Islam (dalam sesi tertentu) dibolehkan, tetapi bukan menyalahkan dan bukan membuktikan kebobrokan mereka.
Inilah makna dialog dalam pandangan mereka. Sedangkan tujuannya adalah agar terjadi interaksi produktif antar budaya yang khas untuk membentuk peradaban alternatif “unggul” yang membuat suatu pihak dapat menerima pihak yang lain atas dasar landasan yang sama. Namun dalam makna dan kenyataan yang sesungguhnya ketiga butir di atas sesungguhnya adalah upaya kaum di luar Islam untuk terus menerus menyelipkan racun, dan meranjau pola berfikir kaum Muslimin agar pecah berkeping-keping.
Karena itu sering kita menemukan pola berfikir ambigu (mendua) pada sebagian umat ini (terutama yang sempat mengecap pola pendidikan Barat): Di satu sisi mereka percaya kepada Islam, tetapi di sisi lain tidak mau (enggan) menerapkan hukum-hukum Islam
Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kita perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu
BalasHapus