
Dari Wasior Hingga Mentawai dan Merapi
Berhari-hari kusaksikan lagi
berbagai bencana menerpa negeri ini
kulihat ada ratusan mayat berada dalam kantong
dijejerkan, dihitung, untuk kemudian dibawa sanak kadangnya
dikuburkan, meninggalkan duka dan kepedihan.
Aku menangis menggugu
betapa Engkau Mahapunya kuasa
sementara aku ini adalah noktah kecil tanpa arti
duduk bersimpuh menangis untuk mengadu kepadaMu.
Ya Allah kami,
mengapa banyak bencana terus melanda negeri kami
kami tahu bahwa ini bukan lagi sekadar cobaan dan teguran
ini adalah azab dan kehinaan dariMu
karena lalai, ingkar, salah dan dosa kami
Aku tahu bahwa di Wasior, Mentawai dan Merapi
memang tidak ada sanak kadangku di sana
tetapi aku ini anak bangsa ikut merasakan kepedihan
yang menyeruak dan ikut menyayat nuraniku
Betapa kurasakan kepedihan mereka
kehilangan anak, istri, suami, dan jiwa-jiwa lain
harta benda, tanaman pangan, ternak, dan kendaraan,
semua rusak binasa, hancur seperti jiwa mereka
menjadi manusia pengungsi bertebaran di atas bumi
makan nasi bungkus, mie instan, perawatan alakadarnya
Oo, bencana
enyahlah dari bumi kami ini
enyahlah dari hadapan kami
kami tak hendak ada banjir bandang, tsunami, gempa bumi atau letusan gunung api
kami tak hendak kau datangi lagi
kami tak hendak kau susahkan lagi.
Ya Allah kami,
Engkau pasti mendengar kesusahan kami
yang letaknya pada watak kehidupan kami
yang ada pada batas titik kesabaran manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar