Selasa, 09 November 2010

Rinduku




Rembulan menerbangkan rindu
jauh menjelajahi langit cinta,
menyusuri jejak penghambaan

Mengeja rindu
mencatat namamu di bayang rindu dendam,
pada memori di hatiku

Membaca hujan
menyeruak pada ingatan
menemukanmu, mendukung dan mencintaimu.

Mencintaimu sepenuh rasa
cintaku kepada pemilik bumi dan Arasy
sampai menjadi halal bagi hidup
menunggu dan menyimpannya pada ingatan

Pasti ada masa baik
saat kutemukan sebuah saja pada pemilik cinta
walau bukan kau, jagad perempuan!

Malam menggelapkan hati dan mata
singgah dan menghapus tujuan
membiarkan dingin, sunyi dan sepi menjadi saksi

Laksana debur ombak mengenangmu
menggenapi jiwa menyebut Asmamu
buih dosa berlari bersama rindu menggapaimu

Ya Allah kami,
legam hati menyusupi jiwa
menangis di pelukan asa cinta
menapaki cahaya pada pengampunanmu.

Bencana Lagi



Dari Wasior Hingga Mentawai dan Merapi

Berhari-hari kusaksikan lagi
berbagai bencana menerpa negeri ini
kulihat ada ratusan mayat berada dalam kantong
dijejerkan, dihitung, untuk kemudian dibawa sanak kadangnya
dikuburkan, meninggalkan duka dan kepedihan.

Aku menangis menggugu
betapa Engkau Mahapunya kuasa
sementara aku ini adalah noktah kecil tanpa arti
duduk bersimpuh menangis untuk mengadu kepadaMu.

Ya Allah kami,
mengapa banyak bencana terus melanda negeri kami
kami tahu bahwa ini bukan lagi sekadar cobaan dan teguran
ini adalah azab dan kehinaan dariMu
karena lalai, ingkar, salah dan dosa kami

Aku tahu bahwa di Wasior, Mentawai dan Merapi
memang tidak ada sanak kadangku di sana
tetapi aku ini anak bangsa ikut merasakan kepedihan
yang menyeruak dan ikut menyayat nuraniku

Betapa kurasakan kepedihan mereka
kehilangan anak, istri, suami, dan jiwa-jiwa lain
harta benda, tanaman pangan, ternak, dan kendaraan,
semua rusak binasa, hancur seperti jiwa mereka
menjadi manusia pengungsi bertebaran di atas bumi
makan nasi bungkus, mie instan, perawatan alakadarnya

Oo, bencana
enyahlah dari bumi kami ini
enyahlah dari hadapan kami
kami tak hendak ada banjir bandang, tsunami, gempa bumi atau letusan gunung api
kami tak hendak kau datangi lagi
kami tak hendak kau susahkan lagi.

Ya Allah kami,
Engkau pasti mendengar kesusahan kami
yang letaknya pada watak kehidupan kami
yang ada pada batas titik kesabaran manusia.

Bersemi Kembali


Telah kubentangkan hamparan harapan
walau kutahu itu hanya kesia-siaan belaka
yang ia tak dapat kugenggam
yang ia tak dapat kubuka lembarannya

Telah kuukir kenangan padamu
yang tidak pernah menuntut perhatian
tiada mengharapkan rasa bahagia
yang mengharap ketulusan hatimu
walau cara pandang kita memang berbeda


Bagiku bukan penghalang
tak perlu harus samakan isi kepala
karena semua itu ‘kan menghilangkan arti keindahan

Bahagia itu berjuta makna bagiku
dapat membuatmu dan aku tersenyum lepas
itulah dambaan nuraniku

Namun ‘ku kini tak mampu lagi tersenyum
senyumku menghilang dan bahkan ‘tuk ‘melangkah sekalipun
bahkan untuk sanggup bertahan sekalipun

Sekarang semuanya terasa menyakitkan
kau tertekan sementara aku kehilangan arah
mawar itu sekarang berdarah-darah
yang menetesi lembaran kasih yang terbelah
tersisih tapi ‘ku yakin cintaku bukanlah kembang selasih

Harus kukatakan juga kini
sebelum kujawab permintaanmu
bahwa duniaku ini penuh godaan
sanggupkah engkau bila harus bertahan?

Mungkin terlambat kukatakan
namun terima kasihku atas cinta kasihmu padaku
dan ma'afkan daku selama ini.

Namun tiba-tiba kau datang lagi
dari jendela hatiku lalu kulihat hamparan kasihmu,
tersenyum padaku dan datang membawa warna
menuliskan pada kanvas cintamu untukku

Kau kusambut dengan mesra
kuuraikan warna merah muda
karena kau bilang jatuh cinta kembali,
lalu kugariskan pada jajaran warna biru
kau tanyakan: Maukah kau jadi pedamping hidupku?

Aku tersenyum dan kutebarkan padang rumput hijau,
kukatakan: Aku mau mendampingmu dalam mengarungi kehidupan
memang sudah waktunya kita mengharungi biduk kehidupan
dalam kasih yang kini bersemi kembali.

Sabtu, 23 Oktober 2010

Persahabat

“Bicaralah pada kami tentang persahabatan”. Jawabannya adalah:

“Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi. Ladang hati yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih. Dia pula naungan dan pendianganmu. Saat kau menghampirinya ketika hati lupa dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian.

Bila dia mengungkapkan fikirannya, kau tidak takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tidak kau sembunyikan kata “Ya”. Bila dia diam, hatimu berhenti mendengar hatinya karena tanpa ungkapan kata dalam persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan berkongsi, dengan kegembiraan tak terperikan.

Kala berpisah dengan sahabat, tidaklah kau berdukacita; karena yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin nampak lebih jelas ketika dia tiada, bagai gunung bagi seorang pendaki, yang nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.

Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan. Karena cinta mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya. Bukanlah cinta tetapi ia sebuah jala yang ditebarkan yang hanya menangkap yang tidak diharapkan.

Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu. Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.

Gerangan apa sahabat jika kau senantiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu? Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu! Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.

Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan turut dalam kegembiraan itu, karena dalam tetesan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupannya.  (Kahlil Gibran).

Pendidikan

Oleh Hamid Fahmy Zarkasy

Pengantar

Akhir-akhir ini dunia pendidikan disoroti sebagai wilayah terlalu intelektualistis. Terkadang juga dianggap terlalu job-oriented (berorientasi kerja). Sementara pendidikan agama dituduh sebagai terlampau spiritualistis, sehingga nampak tidak rasional dan terkesan jadul.

Sebenarnya pendidikan dalam Islam tidak demikian keadaannya dan ruang lingkupnya. Pendidikan Islam meliputi seluruh aspek yang ada di dalam diri manusia dan lingkupnya. Ia tidak melulu spiritualistis dan tidak pula terlalu intelektualistis atau pragmatis dan praktis. Dunia pendidikan sesungguhnya lebih kompleks dan menyeluruh sifatnya yang berguna bagi kehidupan manusianya.

Dimensi Pendidikan

Pendidikan dalam Islam berkaitan dengan soal ilmu. Ilmu di dalam Islam itu mempunyai dimensi iman dan amal. Karena itu, para pendidik di dunia pendidikan Islam harus memahami dua hal:

Pertama, letak iman, ilmu dan amal tersebut dalam jiwa manusia. Kedua, bagaimana menanamkan itu semua ke dalam diri manusia. Sistem apa yang cocok untuk pengembangan anak dalam berbagai aspek kejiwaannya dalam sebuah sistem pendidikan yang terpadu.

Dua hal inilah yang harus dan perlu dipikirkan terus menerus dan seksama oleh para pendidik.

Konsep dan Unsur Jiwa (Bathin) Manusia

Sebelum berfikir tentang metode atau sistem, perlu dijelaskan terlebih dulu konsep jiwa manusia yang akan menjadi obyek pendidikan. Sebab, jiwa manusia adalah sentral masalah dan memiliki bagian-bagian penting yang saling berkaitan.

Hakim Tirmidhi seorang ulama abad ke 9 menulis buku berjudul "Bayan al-Farq, Bayn al-Sadr,wa al-Qalb,wa al-Fuad wa al-Lub" (Penjelasan Tentang Perbedaan antara Sadr (sadar), Qalb (kalbu/hati), Fuad (nurani) dan Lubb (akal pikiran).

Istilah-istilah "sadr" yang dalam bahasa Indonesia menjadi "sadar-kesadaran" ternyata berbeda artinya dari istilah "qalb, hati" atau "kalbu". "Fuad" yang di Indonesiakan menjadi "nurani" berbeda lagi dari kata "lubb" yang arti sebenarnya adalah "akal pikiran yang beriman". Perhatikan arti dari "Ulul Albab" yang berarti adalah "orang yang berakal fikiran tauhidi".

Namun kata-kata tersebut di atas semua merujuk kepada sesuatu yang "bersifat batiniyah". Jika seseorang dibedah dadanya tentu saja sadr, qalb, fuad dan lubb itu tidak akan ditemukan secara fisik. Oleh karena itu, dalam buku itu Hakim Tirmidhi menjelaskan bahwa "hati" atau "qalb" itu adalah kata (nama) yang komprehensif yang kesemuanya "bersifat batiniyah" alias "tidak zahi"r alias "tidak empiris".

1. Sadr (Sadar, Kesadaran)

Sadr itu ada di dalam qalb, yang kata ini kedudukan tak ubahnya seperti putihnya mata di dalam mata. Sadr adalah pintu masuk awal segala sesuatu ke dalam diri manusia. Perasaan waswas, lalai, kebencian, kejahatan, kelapangan dan kesempitan, semua itu masuk melalui sadr. Nafsu amarah, cita-cita, keinginan, nafsu birahi, itu pun masuk ke dalam sadr dan bukan ke dalam qalb.

Sadr itu juga tempat masuknya ilmu yang datang melalui pendengaran atau khabar. Dari itu, pengajaran, hafalan, dan pendengaran itu berhubungan dengan sadr. Dinamakan sadr karena merujuk kepada kata "sadara" (muncul), atau "sadr" (pusat). Jadi kesadaran adalah inti atau pusat dari hati (qalb). Ia (kesadaran) itu muncul pada qalbu manusia.

2. Qalb (Q/Kalbu, Hati)

Jika sadr itu ada di dalam qalb, maka qalb itu ada dalam genggaman nafs (jiwa). Qalb itu adalah rajanya, sementara jiwa itu adalah kerajaannya. “Jika rajanya baik” seperti sabda Nabi, “maka baiklah bala tentaranya. Jika rusak, maka rusaklah bala tentaranya”.

Demikian pula baik-buruknya jasad itu tergantung pada hati (qalb). Hati (qalb) itu bagaikan lampu dan baiknya suatu lampu itu terlihat dari cahanya. Jadi, baiknya hati terlihat dari cahaya ketaqwaan dan keyakinan manusianya.

Sebagai raja, qalb adalah tempat bersemayamnya cahaya iman, cahaya kekhusyu’an, ketaqwaan, kecintaan, keridhaan, keyakinan, ketakutan, harapan, kesabaran, kepuasan. Karena iman dalam Islam berasaskan pada ilmu, maka qalb juga merupakan sumber ilmu. Karena sadr itu tempat masuknya ilmu, sedangkan qalb itu tempat keimanan, maka di dalam qalb itu pun terdapat dan bersemayamnya ilmu.

3. Fuad (Nurani)

Jika qalb (hati) itu adalah mata, maka fuad itu adalah hitamnya pupil mata. Fuad ini adalah tempat bersemayamnya ma’rifah, ide, pemikiran, konsep, pandangan. Ketika seseorang berfikir maka fuadnya lebih dulu yang bekerja baru kemudian hatinya. Fuad itu ada di tengah-tengah hati, sedangkan hati di tengah-tengah sadar.

4. Lubb (Akal Fikiran)

Jika qalb adalah mata, sadr adalah putih mata, fuad adalah hitamnya pupil mata, maka lubb adalah cahaya mata. Jika qalb adalah tempat bersamayamnya cahaya keimanan dan sadr tempatnya cahaya keislaman, dan fuad adalah tempat cahaya ma’rifah, maka lubb berkaitan dengan cahaya ketauhidan.

Penutup

Gambaran di atas mungkin nampak terlalu spiritual atau dalam bahasa Immanuel Kant adalah “transcendent”. Tapi memang proses berfikir adalah demikian adanya. Hal paling penting di sini dan yang ditekankan adalah bukan bagaimana ilmu itu didapat, tetapi bagaimana ia berproses dari ilmu menjadi iman.

Apabila pendidikan Islam memperhatikan potensi batiniyah manusia seperti digambarkan Hakim Tirmidhi di atas, akan melahirkan manusia-manusia yang tinggi ilmu dan imannya sekaligus banyak amalnya. Yaitu manusia-manusia yang hati (qalb), kesadaran (sadr), nurani (fuad) dan fikirannya (lubb) berjalan seimbang. Wallahu a’lam.

Nanti

“Pergunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara lain: (1) Kehidupanmu sebelum datang kematianmu; (2) Kesehatanmu sebelum datang penyaitmu; (3) Waktu senggangmu sebelum datang sibukmu; (4) Masa mudamu sebelum datang masa tuamu; dan (5) Kekayaanmu sebelum datang kemiskinanmu” (HR. Al Hakim).

Kata ‘nanti’ berarti ‘penundaan’ dan kerap digunakan pada aktifitas yang belum atau sedang berusaha keras untuk diselesaikan. Jika ia berkaitan dengan kewajiban yang harus kita lakukan, maka kata ini terkesan kepada sikap menganggap remeh pekerjaan.

Hidup bukanlah besok atau kemaren. Hidup adalah hari ini. Kemarin adalah waktu yang tak kembali. Sementara besok adalah waktu yang tak pernah kita ketahui. Adalah kewajiban kita mengisi hari-hari tersebut dengan ilmu dan amal sholeh. Dengarkan nasehat bijak ini:

“Saudaraku, jauhkan dirimu dari menunda pekerjaan. Jangan biarkan ia bersarang di dalam hatimu. Menunda pekerjaan itu berarti bersahabat dengan kerusakan, dan itu tempat malas bersemayam. Menunda pekerjan berarti memutuskan cita-cita mulia dan menyia-nyiakan umur. Jika engkau berbuat demikian, itu akan menjadi kebiasaan hidupmu. Jauhilah ragamu dari sifat cepat bosan dan palingkan dirimu darinya. Ia tidak mendatangkan manfaat bagi jiwamu. Ada kegembiraan bila pekerjaan telah rampung dikerjakan. Penyesalan ‘kan datang bila pekerjaan itu tidak engkau selesaikan dan melalaikannya”.

Siapa pula yang dapat menjamin seseorang dapat hidup hingga esok hari. Tidak ada yang mampu menahan kematian yang menghampiri. Sebanyak apapun harta, ia tak akan mampu membeli nyawa yang sudah masanya berakhir. Tidak ada kekuasaan sehebat apapun yang mampu mempengaruhi ketentuan ilahi. Beruntunglah bila kita segera mengerjakan kebaikan dan menunaikan kewajiban. Merupakan kelemahan atau kerugian, jika kita menundanya sehingga kesempatan akhir terbuang. Lepaskan belenggu ‘nanti’. Keberadaan kata “nanti’ hanya mendatangkan penyesalan panjang.

“Pekerjaan sehari saja telah membuatku kelelahan”, kata Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Oleh karena itu, Umar bin Abdul Aziz adalah orang tidak pernah menunda-nunda pekerjaannya. Baginya, pekerjaan hari ini harus tuntas diselesaikan.

Sesungguhnya penyesalan teramat dalam bila kita teledor dan menunda-nunda pekerjan yang seharusnya dapat diselesaikan. Kebiasaaan menunda sesungguhnya akan menghadapi beban yang terus bertambah, terlebih kalau itu kewajiban ketaatan dan menunda taubat dari perilaku maksiat. Membiarkan hati berselimut maksiat, akan menyulitkan membersihkannya karena sudah terlanjur berkarat. Segera taubat sebelum terlambat. Jangan biarkan hati tertambat menghindari maksiat.

Hidup tak akan nikmat bila tak ada ketaatan. Di dunia tak mendapat rahmat dan tak ada tempat di akhirat. Menundaa amal kebaikan karena menanti waktu senggang adalah termasuk kebodohan yang amat sangat. Jadikan umur sebagai akhir yang baik. Jadikan pekerjaan sebagai penutup kebaikan. Berharaplah bahwa hari terbaik itu ‘kan datang saat menghadap kepadaMu.

Tidak akan ada hal yang baru jika kita hanya berdiam diri. Karena itu, lakukan sebuah pekerjaan hari ini juga. Jangan ditunda. Besok adalah harapan, tetapi boleh jadi penyesalan. Jangan katakan nanti, nanti, nantilah; nanti keburu mati. Sementara mati itu tidak pernah mau menunggu nanti.

Senin, 18 Oktober 2010

Air Mata

Waktuku kulihat terkapar
bertempur dalam jeda waktu dan berdarah-darah
di kepingan catatan peristiwa
pada hidupku di masa lalumu
pada kecamuk yang enggan bertemu rindu
sementara jarak belum akrabi waktu.

Masa depan menggigilkanku menyelimutimu
pada pahatan kenangan masa depan dan harapan
namun bukan pada masa depanmu
sekarang mengedepan digenggam nama waktu
dalam susunan niat dan kesungguhan
hidupku rindu dalam benci ‘kan membunuh waktuku.

Tepekurku tergugu dalam isak
bercampur air mata kecewa, sesal, rindu dan cinta
kualiri pipi ini dengan airmata
lalu kutumpahkan di kekar bahumu.

Lenganku tak kuasa menggamitmu
ketika kau berjalan menjauhi bayangan pendek pagi hari
tapi kuberharap kau tetap di sini menemaniku.

Oo, perpisahan yang telah menikamku
aku kini berjalan dengan penuh beban
terseok, tersengal-sengal dan selalu berharap
agar diamku berubah menjadi badai dan prahara
yang mampu mengubah dunia dan seisinya.

Pecinta Rindu

Cinta mengemas rindunya, bagaimana, untuk apa, dan kepada siapa. Rindu adalah yang harta sederhana. Ia sama seluas samudera, yang mampu membawa seseorang ke alam khayalan. Orang-orang berusaha menjadikannya nyata. Mereka kemas rindu itu dan menjaga cintanya.

Rindu itu pertanda hadirnya cinta. Tentang Nabi Ibrahim As menyembelih anaknya, Ismail, untuk Tuhannya. Tentang Nabi Yusuf As, tak goyah oleh godaan Zulaikha. Mereka adalah para pecinta sejati.

Rindu adalah tanda kekalnya cinta. Bukan mereka yang menjualnya lantas mengatakan itu pengorbanan. Bukan mereka yang menjadikannya seperti harta namun diam-diam merusaknya. Bukan mereka yang menginginkannya hadir namun lantas tak peduli dan meninggalkannya. Pencinta rindu tak pernah lupa mengemasnya pada pintu hati agar selalu terbuka kapan saja, walau tanpa harus selalu memegang kuncinya. Manusia mengorbankan waktu dan tenaga untuk rindu dan cintanya. Ia simpan baik-baik di hati agar tak pergi. Sadar betul bila rindu hilang, maka cinta pun tak pula datang.

Kerinduan akan tahta mengantarkan penghambaan pada dunia. Tak pernah puas, membabi buta, dan melibas semuanya, tak perduli punya siapa. Rindu dan cinta pada manusia membawa sengsara dan kecewa.

Tiap hari memuja yang fana, bahwa Dia ada, melihat apa yang tidak kita lihat, mengetahui apa yang tersembunyi, menguasai seluruh isi hati. Lalu, kepada siapa rindu dan cinta kita persembahkan? Untuk siapa kita mengemas rindu? Kepada siapa cinta kita labuhkan? Untuk siapa semuanya itu, wahai pecinta rindu, yang berlari di lorong-lorong cinta untuk menggapai rindu padaNya? 

Minggu, 17 Oktober 2010

Ingin Berubah

Aku akan mengubah hidup hari ini
menunggu setia dan sabar
hingga lebat hujan menghilang dan tak turun lagi
berharap hingga terik mentari pergi menjauh
hingga sengat dan panasnya tak ada lagi
lalu berteriaklah segera:

"Aku ‘kan mengubah hidup hari ini"

Belajar pada kepompong berubah menjadi kupu
berubah sekarang untuk memburu impian yang menghilang
sebelum waktu pergi berlalu,
lelah membelenggu langkah dan hidup terhalang nafas

Selalu akan, mencoba untuk?
Berusaha ingin, berencana jadi?
Sampai waktu terhenti di akhir perhelatan
aku marah karena masih di sini, seperti ini, dan tak pernah berubah
tidak sedetikpun, dari hari yang telah berlalu
walau waktuku pergi dan kalian hanya bergumam
lebih baik kukatakan, berhentilah waktu

Mari kita pergi mengejar mimpi dan sepi
sebab setan berfikir seperti manusia
sementara Tuhan berfikir untuk kebaikan dan keabadian.

(Buat Denny William Halley yang tidak bosan "berupaya" dan berjuang melawan dirinya)

Mengembara di Belantara Jiwa

Jika kaki berpijakmu sulit temukan ketentraman
masukilah ranah jiwamu
menyelamlah di kedalamannya
di sana ‘kan kau temukan jutaan keindahan
tidak ada lahan terlantar dan hutan terbakar,
tidak ada terjalnya bebatuan dan duri tajam
bahkan auman binatang buas dan sengatan berbisa
di sana ada rasa yang sulit kau eja
di belantara itu ada sikap yang tak bisa kau baca.

Di belantara jiwa ada kesegaran dari taman yang terhampar luas
tempat berbagai puspa berkelopak hamburkan harum dan pendarkan warna
melangkah saja dan masuklah ke dalam sana
akan banyak wajah ‘kan menyambut
di sana mentari pancarkan sinarnya dan terasa hangatnya.

Tetapi menjejaklah pada kedua sisi hidupmu
bernafas di tanah manusia
membuat angan di awang-awang lamunan
mengusir angin yang bercampur kabut halimun putih

Ada dunia dan ada taman jiwa yang berimbang
bukankah dunia tempat bercocok tanam
untuk mengambil panennya di kampung akhirat?

Kamis, 14 Oktober 2010

Bersatu

Kita boleh merasa menjadi apa saja: Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jama’ah Salafi, Muhammadiyah & NU, PMII, HMI, pun KAMMI. Tak apa berbeda dalam batas toleransi dalam berislam. Bukankah permasalahan ikhtilaf /khilafiyah dan ijtihad seorang ulama mungkin benar mungkin juga salah?

Mari menjauhi sikap ekstrem beragama. Perlu bersatu dalam keragaman jama’ah di medan amal Islami. Bekerjasama dalam memperbaiki kerusakan umat dan pemikirannya.


Bung, tujuan kita satu! Agar tegak Syariah Islam di muka bumi. Ada satu kepemimpian, Khilafah Islamiyah, dalam satu komando. Kepemimpinan yang bersedia melanjutkan kehidupan Islam di muka bumi ini. Kemudian, yang mau menegakkan kalimah “Allaahu Akbar”. Tegaknya kalimah “Laa ilaaha Illallah, Muhammadar Rosulullah”

Lalu apa yang harus dilakukan? Mari satukan langkah memperbaiki diri, bentuklah pribadi yang berkarakter:

Salimul Aqidah: Bersih akidah dari semua hal yang menjerumuskan diri ke lubang syirik.

Shahihul Ibadah: Benar Ibadahnya menurut Al Qur’aan dan As Sunnah, dan jauh dari bid’ah yang menyesatkan.

Matinul Khuluq: Akhlak unggul yang mampu menunjukkan kepribadian menawan dan meyakinkan orang bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. (Rahmatan Lil Alamin).

Qawwiyul Jismi: Fisik yang prima sehingga mampu mengatur kepentingan jasmaninya yang merupakan amanah /titipan Allah SWT.

Mutsaqaful Fikri: Memiliki wawasan berfikir yang luas sehingga mampu menangkap berbagai informasi serta perkembangan yang terjadi di sekitarnya.

Qadirun ‘alal Kasbi: Mandiri yang membawanya berusaha menjadi seseorang yang berjiwa mandiri dan tidak mau bergantung kepada orang lain dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya.

Mujahidun Linafsihi: Berjanji sungguh-sungguh menjadikan seseorang yang memaksimalkan setiap kesempatan atau kejadian sehingga berdampak baik pada diri maupun orang lain.

Haritsun ‘ala Waqtihi: Efisien memanfaatkan waktu, pantang menyia-nyiakan waktu untuk melakukan kebaikan, serta menyadari bahwa waktu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Munazham Fii Su’unihi: Menata seluruh urusannya agar kehidupannya teratur dalam tanggung jawab dan amanahnya, serta menyelesaikan semua masalah dengan baik dan benar.

Naafi’un Li Ghairihi: Bermanfaat bagi orang lain dan dibutuhkan. Keberadaannya menjadi kebahagiaan bagi orang lain, dan ketiadaannya menjadikan kerinduan bagi orang lain.

Bagi Anda Nonmuslim (bukan beragama islam) yang membaca tulisan ini, jangan merasa khawatir. Islam agama yang menjadi rahmah bagi seluruh alam. Jika Hukum Allah ditegakkan, maka agama lain tetap dilindungi dan bebas beribadah, selama tidak melanggar hukum hukum yang sudah ditetapkan.

Islam agama dakwah. Kewajiban kami adalah berdakwah kepada siapapun. Islam menginginkan semuanya selamat dunia Akhirat. ketika keyakinan agama sudah bulat pada diri seseorang, maka islam tidak memaksakan kehendak, karena tidak ada paksaan dalam beragama di dalam islam.

“Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Kamu pun bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Kamu pun tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku” (QS 109:2-6)

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat..” (QS 2:256).

Dialog

Istilah dialog (dalam bentuk “benturan”) yang terjadi di lapangan pemikiran adalah friksi (gesekan) antara agama dan peradaban kaum Muslimin di satu sisi; Nonmuslim dan agama mereka, serta kaum kapitalis dan peradaban mereka ada pada sisi yang lain.

Pemimpin dan pemikir kapitalis acap membenturkan unsur-unsur tersebut dalam upaya memisahkan Islam dari para pemeluknya, atau antara Islam dengan kaum Muslimin. Mereka katakan bahwa Islam adalah agama besar dan benar, tetapi lain waktu mereka sebutkan bahwa kaum Muslimin adalah kaum terbelakang, intolerans, brutal, senjata, berdarah-darah, dan menjadi teroris. Mereka menjadi para pendusta ketika berbicara tentang Islam. Kalau benar Islam agama yang besar dan benar, harusnya mereka peluk dan ikut berislam.

Itulah upaya menipu sebagian kaum Muslim yang lugu (naif) dan usaha meredam kebencian kaum Muslim, menghantam segolongan Muslim yang taat, atau berusaha menyebarluaskan konsep peradaban kufur kepada kaum Muslim. Namun mereka tetap kewalahan, karena aqidah Islam tetap tertanam dalam jiwa kaum Muslimin, bahkan mayoritas masih memegang kuat aqidah itu.

Mereka menyadari bahwa permusuhannya terhadap Islam secara terbuka sama artinya mereka menghasut dan memprovokasi bangkitnya kaum Muslim. Karena itu mereka menggunaan kata-kata yang menyesatkan sebagai upaya mengelabui kaum Muslimin dan memperdayanya.

Sebagian kaum Muslim menyantap umpan ini dan bersedia berdialog dengan meraka yang didukung oleh para intelektual yang menjadi agen-agen mereka. Fokus dialog itu pada 4 (empat) hal utama.

Pertama, persamaan antar agama dan peradaban dalam dialog, tanpa membahas ada agama atau peradaban yang lebih unggul dan lebih baik daripada yang lain.

Kedua, dialog dibatasi hanya sebagai ajang untuk mengetahui pendapat pihak lain, bukan untuk menyanggah atau membuktikan kebenaran dan kesalahan.

Ketiga, dialog bertujuan menciptakan peradaban alternatif dengan cara mencari titik temu dan persamaan antara kedua pemikiran dan peradaban.

Keempat, menyalahkan dan menyudutkan Islam (dalam sesi tertentu) dibolehkan, tetapi bukan menyalahkan dan bukan membuktikan kebobrokan mereka.

Inilah makna dialog dalam pandangan mereka. Sedangkan tujuannya adalah agar terjadi interaksi produktif antar budaya yang khas untuk membentuk peradaban alternatif “unggul” yang membuat suatu pihak dapat menerima pihak yang lain atas dasar landasan yang sama. Namun dalam makna dan kenyataan yang sesungguhnya keempat butir di atas sesungguhnya adalah upaya kaum di luar Islam untuk terus menerus menyelipkan racun, dan meranjau pola berfikir kaum Muslimin agar pecah berkeping-keping.

Karena itu sering kita menemukan pola berfikir ambigu (mendua) pada sebagian umat ini (terutama yang sempat mengecap pola pendidikan Barat): Di satu sisi mereka percaya kepada Islam, tetapi di sisi lain tidak mau (enggan) menerapkan hukum-hukum Islam.

Menangis

Menangislah bila engkau lalai dari mengingat Pemilik Kematian
Menangislah bila engkau lalai dan meninggalkan kewajiban hidupmu.
Menangislah bila engkau telah melakukan maksiat.
Menangislah bila itu penting buat kehidupanmu.

Manusia lahir, ia menangis tanpa beban hidup.
Manusia dewasa, ia menangisi beban hidupnya.
Nenek dan kakek, ia menangisi usianya yang mendekati kematian.

Tapi benarkah perempuan menangis karena kelembutan hatinya?
Mungkin ya, bisa jadi juga tidak
Jangan-jangan hanya bermaksud membela diri
bahwa perempuan itu memang cengeng!

Biarkan Mulai dari Awal Saja

Semua mulai dari awal
semua dimulai dari nol ketiadaan
semua dari awal yang kosong

Kenapa takut dan gelisah?
cepat singkat, cerita baru mulai
sementara tetesan dari mata mulai berjatuhan
menggenangi cermin hati dan kubiarkan saja


Cerminku kotor, berdebu dan kusam
kini bening bercahaya memantulkan bayangannya
lihatlah ada senyuman di sana hadir dalam ceria dan cengkerama

Oo, Allah kami
berkahMu tak terhingga
tetesan cintaMu membersihkan cermin hatiku
bahkan sapaan ramah kini meringankan senyum dan langkahku

Biarlah dan biarkanlah
rumput liar itu tak bertuan
biarkan saja terlihat indah dipandang

Biarlah dan biarkanlah
perahu berlabuh menuju dermaganya
biarlah agar laut dan pantai menjadi damai

Biarlah dan biarkanlah
semua mengalir seperti air yang tak pernah berbalik arah
seperti akar yang menahan beban pohon
biarlah di sana cahaya menerangi kegelapan

Biarlah dan biarkanlah
ada Ar Rahman dan Ar Rahiiim yang menjagaku
dalam setiap tarikan nafas ini.

Khusnul atau Su'ul Khatimah

Pertama

Anas bin Malik Ra. menuturkan bahwa Nabi Saw pernah bersabda:

"Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, Dia (Allah) akan memperlakukannya (dengan baik pula)". Ditanyakan: "Bagaimana Dia (Allah) memperlakukannya?” Beliau menjawab: "Dia (Allah) menuntunnya untuk berbuat amal shalih sebelum kematiannya" (HR. Turmudzi dan Al Hakim).


Kedua

'Amr ibn al-Hamq menuturkan bahwa Rasulullah Saw bersabda:

"Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia (Allah) akan memberi kehormatan baginya". Ditanya: "Bagaimana Dia (Allah) memberikan kehormatan”, tanya para sahabat. Beliau menjawab: "Dia (Allah) menuntunnya untuk berbuat amal shaleh ketika mendekati ajalnya sehingga para tetangganya meridhoinya" (HR. Ahmas dan Al-Hakim).

Ketiga

Dalam sebuah hadits marfu, A'isyah Ra meriwayatkan bahwa Rasullullah Saw, bersabda sebagai berikut:

"Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan mengirimkan utusan sejumlah malaikat kepadanya sebelum kematiannya, yang akan meluruskannya sehingga ia meninggal dalam sebaik-baiknya keadaan”. Orang-orang lalu berkata: "Si Anu meninggal dalam keadaan yang paling baik".

Keempat

Dalam hal ini, sebagian Ulama mengatakan: Beberapa faktor yang menyebabkan akhir yang buruk (Su'ul khatimah) ada 4 (empat):

1. Mengabaikan kewajiban shalat.

2. Minum minuman keras (Khamr).

3. Durhaka kepada kedua orang tua.

4. Menyakiti orang lain (siapa saja dari manusia dan kaum Muslimin).

Dialog

Istilah dialog (dalam bentuk “benturan”) yang terjadi di lapangan pemikiran adalah friksi (gesekan) antara agama dan peradaban kaum Muslimin di satu sisi; Nonmuslim dan agama mereka, serta kaum kapitalis dan peradaban mereka ada pada sisi yang lain.

Pemimpin dan pemikir kapitalis acap membenturkan unsur-unsur tersebut dalam upaya memisahkan Islam dari para pemeluknya, atau antara Islam dengan kaum Muslimin. Mereka katakan bahwa Islam adalah agama besar dan benar, tetapi lain waktu mereka sebutkan bahwa kaum Muslimin adalah kaum terbelakang, intolerans, brutal, senjata, berdarah-darah, dan menjadi teroris.

Mereka menjadi para pendusta ketika berbicara tentang Islam. Kalau benar Islam agama yang besar dan benar, harusnya mereka peluk dan ikut berislam.

Itulah upaya menipu sebagian kaum Muslim yang lugu (naif) dan usaha meredam kebencian kaum Muslim, menghantam segolongan Muslim yang taat, atau berusaha menyebarluaskan konsep peradaban kufur kepada kaum Muslim. Namun mereka tetap kewalahan, karena aqidah Islam tetap tertanam dalam jiwa kaum Muslimin, bahkan mayoritas masih memegang kuat aqidah itu.

Mereka menyadari bahwa permusuhannya terhadap Islam secara terbuka sama artinya mereka menghasut dan memprovokasi bangkitnya kaum Muslim. Karena itu mereka menggunaan kata-kata yang menyesatkan sebagai upaya mengelabui kaum Muslimin dan memperdayanya.

Sebagian kaum Muslim menyantap umpan ini dan bersedia berdialog dengan meraka yang didukung oleh para intelektual yang menjadi agen-agen mereka. Fokus dialog itu pada tiga hal utama.

Pertama, persamaan antar agama dan peradaban dalam dialog, tanpa membahas ada agama atau peradaban yang lebih unggul dan lebih baik daripada yang lain.

Kedua, dialog dibatasi hanya sebagai ajang untuk mengetahui pendapat pihak lain, bukan untuk menyanggah atau membuktikan kebenaran dan kesalahan.

Ketiga, dialog bertujuan menciptakan peradaban alternatif dengan cara mencari titik temu dan persamaan antara kedua pemikiran dan peradaban.

Keempat, menyalahkan dan menyudutkan Islam (dalam sesi tertentu) dibolehkan, tetapi bukan menyalahkan dan bukan membuktikan kebobrokan mereka.

Inilah makna dialog dalam pandangan mereka. Sedangkan tujuannya adalah agar terjadi interaksi produktif antar budaya yang khas untuk membentuk peradaban alternatif “unggul” yang membuat suatu pihak dapat menerima pihak yang lain atas dasar landasan yang sama. Namun dalam makna dan kenyataan yang sesungguhnya ketiga butir di atas sesungguhnya adalah upaya kaum di luar Islam untuk terus menerus menyelipkan racun, dan meranjau pola berfikir kaum Muslimin agar pecah berkeping-keping.

Karena itu sering kita menemukan pola berfikir ambigu (mendua) pada sebagian umat ini (terutama yang sempat mengecap pola pendidikan Barat): Di satu sisi mereka percaya kepada Islam, tetapi di sisi lain tidak mau (enggan) menerapkan hukum-hukum Islam

Rabu, 13 Oktober 2010

Air Mata Shahabat

Pada suatu hari Abdurrahman bin Auf duduk bersama kami. Dia adalah sebaik-baiknya teman duduk dalam majelis. Saat dia pulang, kami mengikuti sampai ke rumahnya. Kami melihat dia pergi mandi. Usai mandi, ia kembali duduk bersama kami.

Abdurrahman bin Auf adalah tuan rumah yang baik. Ia lalu memerintahkan kepada emban di rumahnya untuk menghidangkan sepiring besar roti dan daging untuk kami.


Namun begitu hidangan itu ada di hadapannya, ia kemudian menangis. Air matanya deras mengalir sampai membasahi janggut dan bajunya. Beberapa kali ia menghapusnya, namun air mata itu terus mengalir dengan derasnya. Tangisannya terdengar sungguh-sungguh sedih dan tersedu-sedu yang terdengar menyayat hati orang yang mendengarkannya.

Hati kami gelisah dibuatnya. Lalu kami bertanya padanya:

“Apa yang membuatmu menangis seperti anak kecil?”

Abdurrahman bin Auf kemudian menjawabnya dengan mata memerah dan dengan air mata yang terus mengalir:

“Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam sampai wafatnya, diri dan keluarganya belum pernah sekalipun kenyang makan roti. Sementara kita? Padahal beliau adalah orang yang dimuliakan oleh Allah daripada kita”.

Itulah air mata Shahabat. Seseorang yang mencintai Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam begitu mendalam. Sudahkah kita menangis untuk Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam yang kita cintai?

(Dikutip dari Kitab “Sifat ash-Shafwah” oleh Ibnu al-Jauzi).

Tumor, Kista dan Myoma

Tumor adalah pertumbuhan jaringan berlebihan membentuk massa di bagian tubuh tertentu.

Kista adalah tumor yang berbentuk kantong yang berisi cairan. Organ reproduksi yang bebentuk kista adalah ovarium atau indung telur.

Kista bisa jinak, dapat pula ganas. Kista ovarium beragam jenisnya, tergantung jaringan yang membentuknya dan jenis cairan di dalamnya. Kista endometriosis cairannya berupa darah haid. Kista dermoid terdiri dari jaringan gigi, rambut, dan lemak.

Myoma (uteri) adalah tumor jinak di jaringan otot rahim (myometrium). Tumor ini ada pada organ rahim. Myoma uteri kebanyakan terjadi pada masa reproduksi dan pembesarannya berkaitan dengan hormon estrogen.

Kista dan myoma termasuk jenis tumor yang angka kejadiannya cukup tinggi pada alat reproduksi perempuan. Kista ovarium dan myoma uteri dapat mengganggu proses kehamilan. Kehamilan dengan adanya myoma uteri memudahkan keguguran, sedangkan kehamilan dengan kista ovarium dapat mengalami kista terpuntir yang merupakan kondisi akut. Selain membahayakan ibu, ia juga menghalangi bayi lahir normal.

Myoma pada rahim dapat mengganggu kehamilan, yaitu menyebabkan kelainan letak janin (posisi janin melintang, misalnya). Pada wanita yang tidak hamil, myoma menyebabkan kelainan haid (menjadi tidak teratur atau bertambah banyak), dan tergantung dari ukuran dan letak myoma.

Apakah semua kista atau myoma harus dioperasi untuk diangkat? Jawabannya tergantung dari jenis tumor, sifat, ukuran, letak, dan usia penderitanya.

Ada beberapa jalan yang dapat ditempuh:

1. Gunakan pembalut yang tepat.
2. Berobatlah pada tempat yang tepat.
3. Langkah radikal adalah mengoperasinya.

Mencintaimu


Ingin kutulis namamu pada lembaran putih
kulukis wajahmu pada jalan-jalan yang kulalui
betapa hati merindumu
pada gelap yang menghitung hitamnya
airmata tumpah agar mimpi berjumpa berdua.



Di lembah bermata air,
mengalir sungai keteduhan dari telagamu
tepiannya benderang terlihat walau dari celah jendela
pemandangan pada cinta jalanan setapak
naik turun debar jantung seperti dawai bergetar
gemuruh angin di dedaunan yang menggetarkan jiwa

Selalu dirimu ada dihatiku,
didekapan perapian menyala kobaran cinta
air mata mengaliri pipi pada malam-malam yang hening
selimut jiwa mengapi panasmu pada gunung membara magmanya
keindahan alam dari jendela hati pada hamparan dunia dan masa depan
pada pelangi membalut langit dan keajaiban cinta memagutku
agar bahagia bisa tinggal di hati

Cintaku itu,
walau telah berabad-abad dirimu berlalu, ya Rasulullah
namun sungguh kucintai dirimu sebisaku sedalam-dalamnya.

Rinduku


O, Allah kami
andai bisa kutulis namaMu pada tiap lembaran kertas
kulukis wajahMu pada jalanan yang kulalui
begitulah rinduku padaMu
dalam gelap kuhitung terangMu
dalam derai airmata yang pernah tumpah.


Rindu gebuku tak kenal waktu
resah rinduku kurayu dalam harap bertemu
rindu tak terperi yang sungguh mati
rindu abadi juga rindu kami semua

Tak adakah kemungkinan perjumpaan kita
walau hanya bertemu mimpi
pada keajaiban percintaan bersama memadunya?

Di luasnya pelataranMu itu
kugenggam cita dan asa dalam dinginnya malam
kurinduMu dalam diamku
dan dalam sepiku yang menikamku
aku berdarah-darah dalam rindu dan cinta parahku padaMu.

Selasa, 12 Oktober 2010

Kalimat Mulia


Pengantar

Dzikir adalah ibadah yang sangat mulia dan menenangkan jiwa. Dzikir bisa dirutinkan setiap saat, diucapkan terus agar lidah basah oleh ucapan kalimat mulia, yaitu 1. Subhanallah, 2. (W)alhamdulillah, 3. (Wa)laa ilaaha illallaah, 4. (W)Allaahu akbar.

Selain itu, ada kalimat mulia lainnya, yaitu

1. “Basmalah (Bismillaahir Rahmaanir Rahiim)” pada setiap pekerjaan (yang baik). 2. “Alhamdulillaah” ketika selesai mengerjakan pekerjaaan (yang baik). 3. “istighfar (Astaghfirullaah)” apabila ia mengucapkan (mengerjakan) sesuatu yang tidak bermanfaat. 4. “Insya Allah” apabila ia berjanji akan melakukan sesuatu.

5. “Laa Haulaa Walaa Quwwataa Illaa Billahi ‘Aliyyil A’dziim” apabila menghadapi pekerjaan yang tidak disenangi. 6. “Innaa lillaahi wa innaa ilahii raajiuun” apabila ia ditimpa (mengalami) musibah. 7. “Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullaah”.


Arti pada Kalimat Mulia

Maksud bacaan tasbih (subhanallah = Maha Suci Allah) adalah menyucikan Allah dari segala kekurangan yang tidak layak bagiNya.

Maksud bacaan tahmid (alhamdulillah = segala puji bagi Allah) adalah menetapkan kesempurnaan pada Allah dalam nama, shifat dan perbuatanNya yang mulia.

Maksud bacaan tahlil (laa ilaha illallah = tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) adalah berbuat ikhlas dan mentauhidkan Allah serta berlepas diri dari kesyirikan.

Maksud bacaan takbir (Allahu akbar = Allah Maha Besar) adalah menetapkan keagungan atau kebesaran pada Allah Ta’ala dan tidak ada yang melebihi kebesarannya.


Kalimat Mulia Lainnya

Imam Abu Al Laib berkata :

“Siapa saja yang memelihara 7 (tujuh) kalimat (di bawah ini) maka dia adalah orang yang bahagia di sisi Allah dan malaikatpun memohonkan ampun kepada Allah atas dosa-dosanya. Walaupun dosanya bagaikan buih lautan, dan tentu ia akan menemukan kenikmatan dalam melaksanakan ketaatan. Juga, hidup dan matinya dalam kebaikan. Tujuh kalimat itu adalah:

1. Membaca “Basmalah (Bismillaahir Rahmaanir Rahiim)” pada setiap pekerjaan (yang baik).

2. Membaca “Alhamdulillaah” ketika selesai mengerjakan pekerjaaan (yang baik).

3. Membaca “istighfar (Astaghfirullaah)” apabila ia mengucapkan (mengerjakan) sesuatu yang tidak bermanfaat.

4. Membaca “Insya Allah” apabila ia berjanji akan melakukan sesuatu.

5. Membaca “Laa Haulaa Walaa Quwwataa Illaa Billahi ‘Aliyyil A’dziim” apabila menghadapi pekerjaan yang tidak disenangi.

6. Membaca “Innaa lillaahi wa innaa ilahii raajiuun” apabila ia ditimpa (mengalami) musibah.

7. Siang dan malam tiada henti membaca syahadat “Laa ilaaha illallaah Muhammadur Rasulullaah”.

Demikianlah agar kita selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap kondisi.

"Jangan banyak bicara, selain dzikir kepada Allah. Sesungguhnya banyak bicara selain dzikir itu adalah menyebabkan hati keras. Sesungguhnya manusia akan jauh dari [rahmat ] Allah adalah orang yang berhati keras".


Ia Merupakan Sunnah Nabi Muhammad Saw.

1. Sangat Disukai Allah SWT

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ. لاَ يَضُرُّكَ بَأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ

Dari Samuroh bin Jundub, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Ada empat ucapan yang paling disukai Allah: (1) Subhanallah, (2) Alhamdulillah, (3) Laa ilaaha illallah, dan (4) Allahu Akbar. Tidak dosa bagimu mengucapkannya yang mana saja” (HR. Muslim no. 2137).

2. Lebih Berharga daripada Dunia dengan Isinya

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لأَنْ أَقُولَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ

Dari Abu Hurairah, dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: “Sesungguhnya membaca “subhanallah walhamdulillah wa laa ilaha illallah wallahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah Maha Besar)” adalah lebih aku cintai daripada segala sesuatu yang terkena sinar matahari" (HR. Muslim no. 2695).

Al Munawwir rahimahullah berkata: Ini ungkapan yang menggambarkan dunia dan seisinya. Keempat kalimat tersebut menunjukkan bahwa ia lebih baik daripada dunia dan seisinya.

3. Sama dengan Bersedekah dengan Jumlah Banyak

عَنْ أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِى طَالِبٍ قَالَ قَالَتْ مَرَّ بِى ذَاتَ يَوْمٍ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى قَدْ كَبِرْتُ وَضَعُفْتُ - أَوْ كَمَا قَالَتْ - فَمُرْنِى بِعَمَلٍ أَعْمَلُهُ وَأَنَا جَالِسَةٌ. قَالَ « سَبِّحِى اللَّهَ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ رَقَبَةٍ تُعْتِقِينَهَا مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ وَاحْمَدِى اللَّهَ مِائَةَ تَحْمِيدَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ فَرَسٍ مُسْرَجَةٍ مُلْجَمَةٍ تَحْمِلِينَ عَلَيْهَا فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَكَبِّرِى اللَّهَ مِائَةَ تَكْبِيرَةٍ فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ بَدَنَةٍ مُقَلَّدَةٍ مُتَقَبَّلَةٍ وَهَلِّلِى اللَّهَ مِائَةَ تَهْلِيلَةٍ - قَالَ ابْنُ خَلَفٍ أَحْسِبُهُ قَالَ - تَمْلأُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ وَلاَ يُرْفَعُ يَوْمَئِذٍ لأَحَدٍ عَمَلٌ إِلاَّ أَنْ يَأْتِىَ بِمِثْلِ مَا أَتَيْتِ بِهِ

Dari Ummi Hani' binti Abu Thalib dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melewatiku pada suatu hari, lalu saya berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, saya sudah tua dan lemah, maka perintahkanlah kepadaku dengan amalan yang bisa saya lakukan dengan duduk." Beliau bersabda: "Bertasbihlah kepada Allah seratus kali, karena itu sama dengan kamu membebaskan seratus budak dari keturunan Isma'il. Bertahmidlah kepada Allah seratus kali karena itu sama dengan seratus kuda berpelana yang memakai kekang di mulutnya, yang kamu bawa di jalan Allah. Bertakbirlah kepada Allah dengan seratus takbir karena ia sama dengan seratus unta yang menggunakan tali pengekang dan penurut. Bertahlillah kepada Allah seratus kali." Ibnu Khalaf berkata; saya mengira beliau bersabda: "Karena ia memenuhi di antara langit dan bumi, dan pada hari ini tidaklah amalan seseorang itu diangkat kecuali akan didatangkan dengan semisal yang kamu lakukan itu." (HR. Ahmad 6/344)

4. Menghapus Dosa yang Banyak

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَا عَلَى الأَرْضِ رَجُلٌ يَقُولُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ إِلاَّ كُفِّرَتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ وَلَوْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang di muka bumi ini mengucapkan: Laa ilaha illallah, wallahu akbar, subhanallah, wal hamdulillah, wa laa hawla wa laa quwwata illa billah, melainkan dosa-dosanya akan dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Ahmad 2/158, sanadnya hasan)

5. Ia Merupakan Tanaman Taman Firdaus

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِىَ بِى فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّى السَّلاَمَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Dari Ibnu Mas'ud, ia berkata, Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam bersabda, "Aku pernah bertemu dengan Ibrahim pada malam ketika aku diisra`kan, kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad, sampaikan salam dariku kepada umatmu, dan beritahukan kepada mereka bahwa Surga debunya harum, airnya segar, dan surga tersebut adalah datar, tanamannya adalah kalimat: Subhaanallaahi wal hamdu lillaahi laa ilaaha illaahu wallaahu akbar (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Maha Besar).” (HR. Tirmidzi no. 3462).

6. Ada 20 (30) Kebaikan, Menggugurkan 20 (30) Dosa

« إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى مِنَ الْكَلاَمِ أَرْبَعاً سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ فَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ عِشْرِينَ حَسَنَةً أَوْ حَطَّ عَنْهُ عِشْرِينَ سَيِّئَةً وَمَنْ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ فَمِثْلُ ذَلِكَ وَمَنْ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ كُتِبَتْ لَهُ ثَلاَثُونَ حَسَنَةً وَحُطَّ عَنْهُ ثَلاَثُونَ سَيِّئَةً

Dari Abu Sa'id Al Khudri dan Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah telah memilih empat perkataan: subhanallah (Maha suci Allah) dan alhamdulillah (segala puji bagi Allah) dan laa ilaaha illa allah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah) dan Allahu akbar (Allah maha besar). Barangsiapa mengucapkan subhaanallah, maka Allah akan menulis dua puluh kebaikan baginya dan menggugurkan dua puluh dosa darinya, dan barangsiapa mengucapkan Allahu Akbar, maka Allah akan menulis seperti itu juga, dan barangsiapa mengucapkan laa Ilaaha illallah, maka akan seperti itu juga, dan barangsiapa mengucapkan alhamdulillahi Rabbil 'aalamiin dari relung hatinya maka Allah akan menulis tiga puluh kebaikan untuknya dan digugurkan tiga puluh dosa darinya." (HR. Ahmad 2/302. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanadnya shahih)


Penutup

Kalimat-kalimat mulia tersebut berfaedah bagi lisan, juga maknanya menjadi bahan renungan hati yang paling dalam. Terpenting dari semua itu adalah bahwa apa-apa yang kita zdikirkan hendaklah kita fahami maksudnya.

Semoga amalan sederhana itu menjadi ibadah rutin kita, lisan basah selalu dengan dzikir kepada Allah. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmatNya segala kebaikan menjadi sempurna.

Senin, 11 Oktober 2010

Setan

Setan musuh terbesar manusia. Seluruh hayatnya didedikasikan untuk menyesatkan manusia. Beragam cara dilakukan asal dapat menyesatkan manusia dari kebenaran.

Banyak ayat Al Qur’aan menjelaskan upaya setan itu. Allah mengingatkan manusia agar tidak mengikuti langkah setan. Ia ancaman bagi keselamatan manusia. Imam Fakhrurrazi dalam Tafsir Al-Kabir mengajukan pertanyaan:

“Bagaimana manusia bisa selamat dari ancaman setan, yang mengepungnya anusia dari empat penjuru mata angin? Bisakah manusia mengalahkan setan yang tak terlihat oleh mata?

Ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mengalahkan setan, kata Imam Fakhrurazi, yakni manusia berdoa dan bersujud kepada Allah. Selama bersama dan senantiasa minta tolong Allah SWT, kata Imam Asy-Sya'rawi, manusia bisa mengalahkan setan. Rasulullah membeberkan rahasia setan:

"Jika kalian masuk rumah dan saat makan dengan menyebut nama Allah, maka setan akan berkata: "Kita tidak punya tempat tidur dan tidak bisa makan malam ini". Sedangkan bila masuk dan tidak menyebut nama Allah, setan berkata: "Malam ini kita punya tempat tidur". Apabila tidak menyebut nama Allah ketika makan, setan berkata: "Kita punya tempat untuk tidur dan bisa makan malam ini" (HR Muslim).

Sebuah riwayat menceritakan pertemuan dua setan: satu berbadan tegap, pakaian bagus dan wajah ceria; satu lagi badan kurus, compang-camping dan wajah sedih.

"Keadaanmu menyedihkan: kurus, compang-camping?" komentar setan pertama. Setan kedua menjawab: "Manusia yang kuikuti selalu membaca basmalah saat makan, berpakaian, dan ketika memasuki rumahnya. Bagaimana mungkin aku bisa makan enak, berpakaian bagus, dan tinggal di rumah mereka? Kini aku lemah tak punya tenaga untuk menyesatkan mereka".

"Menyedihkan keadaanmu. Beda jauh denganku. Orang yang kuikuti tak pernah menyebut nama Allah, saat makan, minum, berpakaian, ataupun saat masuk ke rumahnya. Aku akhirnya kuat dan mudah menyesatkan mereka".

Kunci kekuatan setan dan mengendalikannya adalah manusia wajib mengingat Allah dalam keadaan apapun dan senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi semua laranganNya. Wallahu a'lam.