Senin, 18 Oktober 2010

Pecinta Rindu

Cinta mengemas rindunya, bagaimana, untuk apa, dan kepada siapa. Rindu adalah yang harta sederhana. Ia sama seluas samudera, yang mampu membawa seseorang ke alam khayalan. Orang-orang berusaha menjadikannya nyata. Mereka kemas rindu itu dan menjaga cintanya.

Rindu itu pertanda hadirnya cinta. Tentang Nabi Ibrahim As menyembelih anaknya, Ismail, untuk Tuhannya. Tentang Nabi Yusuf As, tak goyah oleh godaan Zulaikha. Mereka adalah para pecinta sejati.

Rindu adalah tanda kekalnya cinta. Bukan mereka yang menjualnya lantas mengatakan itu pengorbanan. Bukan mereka yang menjadikannya seperti harta namun diam-diam merusaknya. Bukan mereka yang menginginkannya hadir namun lantas tak peduli dan meninggalkannya. Pencinta rindu tak pernah lupa mengemasnya pada pintu hati agar selalu terbuka kapan saja, walau tanpa harus selalu memegang kuncinya. Manusia mengorbankan waktu dan tenaga untuk rindu dan cintanya. Ia simpan baik-baik di hati agar tak pergi. Sadar betul bila rindu hilang, maka cinta pun tak pula datang.

Kerinduan akan tahta mengantarkan penghambaan pada dunia. Tak pernah puas, membabi buta, dan melibas semuanya, tak perduli punya siapa. Rindu dan cinta pada manusia membawa sengsara dan kecewa.

Tiap hari memuja yang fana, bahwa Dia ada, melihat apa yang tidak kita lihat, mengetahui apa yang tersembunyi, menguasai seluruh isi hati. Lalu, kepada siapa rindu dan cinta kita persembahkan? Untuk siapa kita mengemas rindu? Kepada siapa cinta kita labuhkan? Untuk siapa semuanya itu, wahai pecinta rindu, yang berlari di lorong-lorong cinta untuk menggapai rindu padaNya? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar