Sabtu, 23 Oktober 2010

Nanti

“Pergunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara lain: (1) Kehidupanmu sebelum datang kematianmu; (2) Kesehatanmu sebelum datang penyaitmu; (3) Waktu senggangmu sebelum datang sibukmu; (4) Masa mudamu sebelum datang masa tuamu; dan (5) Kekayaanmu sebelum datang kemiskinanmu” (HR. Al Hakim).

Kata ‘nanti’ berarti ‘penundaan’ dan kerap digunakan pada aktifitas yang belum atau sedang berusaha keras untuk diselesaikan. Jika ia berkaitan dengan kewajiban yang harus kita lakukan, maka kata ini terkesan kepada sikap menganggap remeh pekerjaan.

Hidup bukanlah besok atau kemaren. Hidup adalah hari ini. Kemarin adalah waktu yang tak kembali. Sementara besok adalah waktu yang tak pernah kita ketahui. Adalah kewajiban kita mengisi hari-hari tersebut dengan ilmu dan amal sholeh. Dengarkan nasehat bijak ini:

“Saudaraku, jauhkan dirimu dari menunda pekerjaan. Jangan biarkan ia bersarang di dalam hatimu. Menunda pekerjaan itu berarti bersahabat dengan kerusakan, dan itu tempat malas bersemayam. Menunda pekerjan berarti memutuskan cita-cita mulia dan menyia-nyiakan umur. Jika engkau berbuat demikian, itu akan menjadi kebiasaan hidupmu. Jauhilah ragamu dari sifat cepat bosan dan palingkan dirimu darinya. Ia tidak mendatangkan manfaat bagi jiwamu. Ada kegembiraan bila pekerjaan telah rampung dikerjakan. Penyesalan ‘kan datang bila pekerjaan itu tidak engkau selesaikan dan melalaikannya”.

Siapa pula yang dapat menjamin seseorang dapat hidup hingga esok hari. Tidak ada yang mampu menahan kematian yang menghampiri. Sebanyak apapun harta, ia tak akan mampu membeli nyawa yang sudah masanya berakhir. Tidak ada kekuasaan sehebat apapun yang mampu mempengaruhi ketentuan ilahi. Beruntunglah bila kita segera mengerjakan kebaikan dan menunaikan kewajiban. Merupakan kelemahan atau kerugian, jika kita menundanya sehingga kesempatan akhir terbuang. Lepaskan belenggu ‘nanti’. Keberadaan kata “nanti’ hanya mendatangkan penyesalan panjang.

“Pekerjaan sehari saja telah membuatku kelelahan”, kata Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Oleh karena itu, Umar bin Abdul Aziz adalah orang tidak pernah menunda-nunda pekerjaannya. Baginya, pekerjaan hari ini harus tuntas diselesaikan.

Sesungguhnya penyesalan teramat dalam bila kita teledor dan menunda-nunda pekerjan yang seharusnya dapat diselesaikan. Kebiasaaan menunda sesungguhnya akan menghadapi beban yang terus bertambah, terlebih kalau itu kewajiban ketaatan dan menunda taubat dari perilaku maksiat. Membiarkan hati berselimut maksiat, akan menyulitkan membersihkannya karena sudah terlanjur berkarat. Segera taubat sebelum terlambat. Jangan biarkan hati tertambat menghindari maksiat.

Hidup tak akan nikmat bila tak ada ketaatan. Di dunia tak mendapat rahmat dan tak ada tempat di akhirat. Menundaa amal kebaikan karena menanti waktu senggang adalah termasuk kebodohan yang amat sangat. Jadikan umur sebagai akhir yang baik. Jadikan pekerjaan sebagai penutup kebaikan. Berharaplah bahwa hari terbaik itu ‘kan datang saat menghadap kepadaMu.

Tidak akan ada hal yang baru jika kita hanya berdiam diri. Karena itu, lakukan sebuah pekerjaan hari ini juga. Jangan ditunda. Besok adalah harapan, tetapi boleh jadi penyesalan. Jangan katakan nanti, nanti, nantilah; nanti keburu mati. Sementara mati itu tidak pernah mau menunggu nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar