Kita boleh merasa menjadi apa saja: Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jama’ah Salafi, Muhammadiyah & NU, PMII, HMI, pun KAMMI. Tak apa berbeda dalam batas toleransi dalam berislam. Bukankah permasalahan ikhtilaf /khilafiyah dan ijtihad seorang ulama mungkin benar mungkin juga salah?
Mari menjauhi sikap ekstrem beragama. Perlu bersatu dalam keragaman jama’ah di medan amal Islami. Bekerjasama dalam memperbaiki kerusakan umat dan pemikirannya.
Bung, tujuan kita satu! Agar tegak Syariah Islam di muka bumi. Ada satu kepemimpian, Khilafah Islamiyah, dalam satu komando. Kepemimpinan yang bersedia melanjutkan kehidupan Islam di muka bumi ini. Kemudian, yang mau menegakkan kalimah “Allaahu Akbar”. Tegaknya kalimah “Laa ilaaha Illallah, Muhammadar Rosulullah”
Lalu apa yang harus dilakukan? Mari satukan langkah memperbaiki diri, bentuklah pribadi yang berkarakter:
Salimul Aqidah: Bersih akidah dari semua hal yang menjerumuskan diri ke lubang syirik.
Shahihul Ibadah: Benar Ibadahnya menurut Al Qur’aan dan As Sunnah, dan jauh dari bid’ah yang menyesatkan.
Matinul Khuluq: Akhlak unggul yang mampu menunjukkan kepribadian menawan dan meyakinkan orang bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam. (Rahmatan Lil Alamin).
Qawwiyul Jismi: Fisik yang prima sehingga mampu mengatur kepentingan jasmaninya yang merupakan amanah /titipan Allah SWT.
Mutsaqaful Fikri: Memiliki wawasan berfikir yang luas sehingga mampu menangkap berbagai informasi serta perkembangan yang terjadi di sekitarnya.
Qadirun ‘alal Kasbi: Mandiri yang membawanya berusaha menjadi seseorang yang berjiwa mandiri dan tidak mau bergantung kepada orang lain dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya.
Mujahidun Linafsihi: Berjanji sungguh-sungguh menjadikan seseorang yang memaksimalkan setiap kesempatan atau kejadian sehingga berdampak baik pada diri maupun orang lain.
Haritsun ‘ala Waqtihi: Efisien memanfaatkan waktu, pantang menyia-nyiakan waktu untuk melakukan kebaikan, serta menyadari bahwa waktu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Munazham Fii Su’unihi: Menata seluruh urusannya agar kehidupannya teratur dalam tanggung jawab dan amanahnya, serta menyelesaikan semua masalah dengan baik dan benar.
Naafi’un Li Ghairihi: Bermanfaat bagi orang lain dan dibutuhkan. Keberadaannya menjadi kebahagiaan bagi orang lain, dan ketiadaannya menjadikan kerinduan bagi orang lain.
Bagi Anda Nonmuslim (bukan beragama islam) yang membaca tulisan ini, jangan merasa khawatir. Islam agama yang menjadi rahmah bagi seluruh alam. Jika Hukum Allah ditegakkan, maka agama lain tetap dilindungi dan bebas beribadah, selama tidak melanggar hukum hukum yang sudah ditetapkan.
Islam agama dakwah. Kewajiban kami adalah berdakwah kepada siapapun. Islam menginginkan semuanya selamat dunia Akhirat. ketika keyakinan agama sudah bulat pada diri seseorang, maka islam tidak memaksakan kehendak, karena tidak ada paksaan dalam beragama di dalam islam.
“Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Kamu pun bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Kamu pun tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku” (QS 109:2-6)
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat..” (QS 2:256).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar