Rabu, 13 Oktober 2010

Air Mata Shahabat

Pada suatu hari Abdurrahman bin Auf duduk bersama kami. Dia adalah sebaik-baiknya teman duduk dalam majelis. Saat dia pulang, kami mengikuti sampai ke rumahnya. Kami melihat dia pergi mandi. Usai mandi, ia kembali duduk bersama kami.

Abdurrahman bin Auf adalah tuan rumah yang baik. Ia lalu memerintahkan kepada emban di rumahnya untuk menghidangkan sepiring besar roti dan daging untuk kami.


Namun begitu hidangan itu ada di hadapannya, ia kemudian menangis. Air matanya deras mengalir sampai membasahi janggut dan bajunya. Beberapa kali ia menghapusnya, namun air mata itu terus mengalir dengan derasnya. Tangisannya terdengar sungguh-sungguh sedih dan tersedu-sedu yang terdengar menyayat hati orang yang mendengarkannya.

Hati kami gelisah dibuatnya. Lalu kami bertanya padanya:

“Apa yang membuatmu menangis seperti anak kecil?”

Abdurrahman bin Auf kemudian menjawabnya dengan mata memerah dan dengan air mata yang terus mengalir:

“Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam sampai wafatnya, diri dan keluarganya belum pernah sekalipun kenyang makan roti. Sementara kita? Padahal beliau adalah orang yang dimuliakan oleh Allah daripada kita”.

Itulah air mata Shahabat. Seseorang yang mencintai Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam begitu mendalam. Sudahkah kita menangis untuk Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi wa Salam yang kita cintai?

(Dikutip dari Kitab “Sifat ash-Shafwah” oleh Ibnu al-Jauzi).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar