Rabu, 06 Oktober 2010

Bercermin

“Lemahnya dikau”, kata seseorang, terlontar dari sudut mata angin. Naifnya suara itu. Tapi aku tersenyum. Padahal diamku adalah kekuatan. Diam dalam kebenaran apakah lemah? Kekuatan besar bila diam dalam kebenaran. Ia menutup semua efek dari fitnah.

Terkadang ujian dahsyat itu kurasakan merupakan penderitaan. Namun ketika mencoba melihat sekitarku, kiri kanan dan atas bawah, masyaallah, begitu banyak yang lebih menderita dan teraniaya, yang tidak sebanding dengan cobaan yang melanda diriku.

Rasanya aku malu bila tidak bersyukur. Ada wanita yang menderita oleh seorang suami yang kejam lahir batin, tanpa menafkahi lahir batin. Wanita itu hanya diam dan bersabar. Kurasa dia bukan lemah tapi karena beriman.

Di sebelah kananku ada seorang wanita dengan penyakit kanker menyerangnya, tanpa keluarga, anak dan suami, tetapi wanita itu sabar dalam keimanannya.

Kulihat di bawahku ada seorang anak tak beribu dan bapak. Ia menghidupi dirinya, banting tulang, tak mengeluh. Subhanallah, sekecil itu dia ikhlas menerima cobaan berat.

Di atasku ternyata sama. Begitu banyak orang yang lebih menderita dan teraniaya, tak terhitung oleh jari.

Aku bercermin. Ternyata rasa syukur dan sabarku tak sebanding mereka.

Ya Rabb, ampun 1000 ampun bila aku lalai bersyukur. Segala hal yang menimpa diriku, tentu karena kekurangan ada pada diriku. Aku sadar bahwa kesabaran menghampiri kesadaran diri, adalah senjata ampuh untuk menjadi sabar. Tanpa kesadaran, sabar tak akan pernah datang pada diri.

“Allah SWT selalu beserta orang-orang yang sabar”. Jangan ingkari ayat bijak itu. Besar kecil ujian dan cobaan, Allah SWT hadir dan merangkul dengan kasih sayangNya. Jangan lepas dengan tidak sabar dari ujianNya. Ujian dan cobaan adalah kasih sayangNya dan rangkullah dengan rasa syukur dan sabar. Dia akan suka kepada hati yang seindah kemilau mutiara, bijak, lapang, seluas samudera legewo dan nrimonya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar