Kawan,negeri ini menyimpan harum kasturi
sepotong tongkat di lemparkan ke mana saja
‘kan mendedahkan kemakmuran tak habis-habisnya
bagi siapa saja bagi makhluk mana saja.
Kawan,
Mendung menggelayut di atas negeri ini,
menebal dari waktu ke waktu menuju kiamatnya
menebal membebal entah kapan sirnanya
Kawan,
Anak-anak kampung menyanyikan lagu rindu bernada pilu
tak tahu bagaimana masa depannya ada di mana
tersungkur ditikam oleh garangnya mentari
di sini, selembar nyawa mirip ludah yang disemburkan
Kawan,
apa arti upacara yang menggunakan namamu
jika dari waktu ke waktu prosesi memakan bangkai
menjadi hidangan sehari-hari yang tiada henti
apa artinya mengunjungi rumahmu
jika dahaga menciptakan lelehan darah hitam
dari tubuh ringkih dan bersimbah peluh para buruh
dari legam terbakar pada punggung petani
dari gizi buruk bocah yang lumpuh layuh meregang nyawa
semua menjadi tontonan bagi penguasa negeri ini
mereka saksikan semua ada di layar kaca, tanpa kata tanpa asa
Kawan,
aku ini sedang marah dan berhak marah,
karena kurasakan tak ada kesedihan dari pada pemimpin negeri ini
kusaksikan mereka hanya bersandiwara
dari para penguasa rumah dan tanahmu
dari anak negeri yang perperangkap lubang ranjau
dan hutang selilit pinggang yang diwariskan kepada anak cucu
Kawan,
apa alasanku berharap engkau tidak marah
melihat bencana demi bencana menghiasi waktu
isak tangis namun ditingkahi dengan pesta
musik sumbang dari biduan genit bergincu tebal
dari lelaki yang impoten pada rasa dan karsanya
yang menonton paha, buah dada dan mabuk?
(Nana Sudiana dan Islisyah Asman)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar