Sabtu, 09 Oktober 2010

Surat Buatmu, Kawan!

Kawan,

negeri ini menyimpan harum kasturi

sepotong tongkat di lemparkan ke mana saja

‘kan mendedahkan kemakmuran tak habis-habisnya

bagi siapa saja bagi makhluk mana saja.



Kawan,

Mendung menggelayut di atas negeri ini,

menebal dari waktu ke waktu menuju kiamatnya

menebal membebal entah kapan sirnanya


Kawan,

Anak-anak kampung menyanyikan lagu rindu bernada pilu

tak tahu bagaimana masa depannya ada di mana

tersungkur ditikam oleh garangnya mentari

di sini, selembar nyawa mirip ludah yang disemburkan


Kawan,

apa arti upacara yang menggunakan namamu

jika dari waktu ke waktu prosesi memakan bangkai

menjadi hidangan sehari-hari yang tiada henti

apa artinya mengunjungi rumahmu

jika dahaga menciptakan lelehan darah hitam

dari tubuh ringkih dan bersimbah peluh para buruh

dari legam terbakar pada punggung petani

dari gizi buruk bocah yang lumpuh layuh meregang nyawa

semua menjadi tontonan bagi penguasa negeri ini

mereka saksikan semua ada di layar kaca, tanpa kata tanpa asa



Kawan,

aku ini sedang marah dan berhak marah,

karena kurasakan tak ada kesedihan dari pada pemimpin negeri ini

kusaksikan mereka hanya bersandiwara

dari para penguasa rumah dan tanahmu

dari anak negeri yang perperangkap lubang ranjau

dan hutang selilit pinggang yang diwariskan kepada anak cucu


Kawan,

apa alasanku berharap engkau tidak marah

melihat bencana demi bencana menghiasi waktu

isak tangis namun ditingkahi dengan pesta

musik sumbang dari biduan genit bergincu tebal

dari lelaki yang impoten pada rasa dan karsanya

yang menonton paha, buah dada dan mabuk?

(Nana Sudiana dan Islisyah Asman)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar