Kamis, 07 Oktober 2010

Perempuan

Sore itu, seorang anak lelaki melihat ibunya menangis. “Mengapa ibu menangis?”.

“Karena aku seorang perempuan”, jawab ibunya.

Dahi anak itu berkerut. Ia menggelengkan kepala karena tidak mengerti atas jawaban ibunya. Ibunya tersenyum, lalu memeluknya erat.

Nak, kamu memang tidak akan pernah bisa mengerti”, kata ibunya lagi.


Kemudian anak itu mencoba bertanya kepada ayahnya.

“Mengapa ibu menangis?”

Sang ayah menjawab:

“Semua perempuan memang gemar menangis tanpa alasan yang berarti”.

Itu jawaban ayahnya. Sederhana dan sekenanya. Lalu anak itu tumbuh menjadi remaja. Ia terus bertanya-tanya, mengapa ibunya menangis ketika itu.

Suatu ketika ia berkunjung ke kakeknya yang tinggal di pegunungan yang berudara sejuk. Sang kakek punya pesantren, dan sudah dianggap sesepuh di sana. Tentu saja, beliaulah adalah orang tua yang sangat faham tentang makna kehidupan. Ia menjawab pertanyaan cucunya itu.

“Saat Allah menciptakan wanita”, kata kakek memulai bercerita, “Dia menciptakannya menjadi sangat penting bagi kehidupan seorang anak”, kata kakek.

“Allah ciptakan bahunya agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walau bahu itu hanya nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tidur”.

“Allah berikan perempuan kekuatan untuk melahirkan zuriat dari rahimnya. Namun sering pula menerima cerca dari anaknya sendiri. Karena itu, Allah berikan ketabahan yang membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah di saat semua orang berputus asa”.

“Allah berikan kesabaran padanya untuk merawat keluarganya, walau ia keletihan, sakit, lelah, namun tanpa terdengar keluh-kesahnya. Allah berikan perasaan peka dan rasa kasih sayang agar ia mampu mencintai semua anaknya, dalam situasi apapun, biarpun anak-anaknya kerap melukai perasaan dan hatinya”.

"Perasaan sayangnya ini memberikan kehangatan kepada anak-anaknya yang mengantuk tidur. Sentuhan lembutnya memberi kenyamanan dan ketenangan. Allah telah berikan kekuatan pada perempuan untuk mendampingi suaminya pada saat getir, dan berjalan bersama-sama dalam susah dan senang. Tulang rusuk suaminya telah melindungi setiap hati dan jantungnya".

“Allah karuniakan kebolehan perempuan untuk membantu suaminya, kebijaksanaan yang menguji kesetiaan bagi suami untuk saling melengkapi dan menyayangi.

“Terakhir, Allah berikannya airmata agar perempuan dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Allah berikan kepada perempuan agar digunakan di mana ia inginkan”.

“Namun, inilah kelemahan yang dimiliki perempuan, walau itu hanya sekedar airmata semata. Namun ia adalah airmata kehidupan bagi manusia”.

Setelah anak itu dewasa dan ia akhirnya punya anak dan cucu, perkataan kakeknya itu, bukan hanya dimengerti oleh akalnya, tetapi semuanya menderanya dalam bentuk kasih sayang yang tulus dari seorang ibu kepadanya. Sesekali ia menangis pilu ketika ia ziarah ke makam ibunya, atau meneteskan air matanya di sujud-sujud pada sholat malamnya.

“Ya Allah kami, berkahi perempuan mulia itu, seperti ia telah menyayangi diriku sedari kecil”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar